Edukasi Kesehatan Sejak Dini Kepada Masyarakat, Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah

image

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog wajah sistem dan regulasi kesehatan di Indonesia oleh http://www.blogfpkr.wordpress.com

Indonesia adalah negeri kaya dengan jumlah penduduk yang banyak. Tenang saja, dengan kekayaan alamnya, penduduk negeri ini akan dapat hidup makmur sejahtera dan terjamin dalam segala aspek kehidupannya. Paling tidak, demikianlah ‘amanat’ diterima anak-anak sekolah di masa tahun 90an dan sebelumnya. Benarkah demikian?

Baiklah. Ungkapan itu tidak sepenuhnya salah dan tidak juga sepenuhnya benar. Indonesia memang memiliki banyak cadangan sumber daya alam dan potensi sumber daya manusianya juga cukup membanggakan. Tapi kalau tentang kehidupan rakyatnya pasti makmur, sejahtera, dan terjamin, wah… sepertinya kita harus melihat data dan fakta terlebih dulu sebelum buru-buru setuju atau tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Kesehatan, sebagai salah satu kebutuhan terpenting demi peningkatan kualitas hidup masyarakat, merupakan masalah yang banyak disorot dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Anggaran untuk sektor kesehatan tahun 2014 adalah sebesar Rp 44.9 triliun saja, yang lebih sedikit dari anggaran untuk sektor pertahanan, yaitu sebesar Rp 83.4 triliun. Jumlah tenaga dokter yang menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia adalah 111.574 orang, dengan jumlah terbesar ada di Jakarta, yaitu sebesar 20.942 orang. Hal ini berarti persebaran tenaga dokter, dan mungkin juga tenaga medis lainnya, tidak merata. Fakta ini diperparah dengan tetap banyaknya jumlah keluarga miskin di Indonesia.

Fakta ini paling tidak telah cukup memberikan gambaran bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia belum memadai, terutama di daerah-daerah terpencil. Memang diakui bahwa pemerintah juga telah berusaha secara terus menerus memberikan perhatian serius dan meningkatkan pembangunan berbagai fasilitas dan pelayanan kesehatan di tanah air.

Namun tentu saja dalam beberapa hal, biaya kesehatan belum bisa ditekan menjadi semurah mungkin. Program jaminan biaya kesehatan, seperti Jamkesmas, Jamkesda, dan Jampersal belum bisa menjangkau semua lapisan masyarakat, hingga ke lapisan paling bawah. Masih sering ditemui kasus pasien terlantar hingga tak tertolong karena ketiadaan biaya dan kekurangan tenaga medis di lokasi tersebut. Angka kematian ibu dan anak, sebagai pihak yang paling banyak membutuhkan layanan kesehatan, juga masih cukup tinggi. Kasus gizi buruk masih banyak ditemui di berbagai daerah, terutama di kantong-kantong kemiskinan dan daerah pascabencana.

Syukurlah kesadaran masyarakat akan pentingnya penanganan masalah kesehatan juga terua meningkat. Melalui usaha-usaha swasta, badan sosial, ormas, dan pribadi-pribadi masyarakat, mereka bekerja sama dengan pemerintah untuk menambah dan meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama terhadap warga miskin.

Selain dengan mengadakan pelayanan kesehatan dengan biaya murah, penyediaan obat dengan harga murah, dan penyediaan tenaga medis hingga ke daerah-daerah terpencil, juga dilakukan edukasi kesehatan sebagai upaya pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Hal ini sangat diperlukan, sebab mencegah selau lebih baik dari mengobati. Dengan menjaga kesehatan, berarti seseorang bisa lebih berhemat untuk biaya kesehatannya. Selain itu, menjaga kesehatan dapat mencakup juga upaya pengobatan penyakit diri sendiri dengan biaya murah.

Upaya edukasi kesehatan ini juga terkadang tak semulus yang dibayangkan. Kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk menjaga kesehatan cukup menyulitkan bagi tenaga edukasi atau tenaga penyuluh. Hal ini kadang dilengkapi dengan mitos-mitos yang sudah berakar di tengah-tengah masyarakat tertentu. Contoh yang banyak ditemui misalnya, ada beberapa jenis penyakit yang masih dianggap sebagai kutukan seperti kusta, herpes, dan ayan. Para penderitanya dijauhi dan dikucilkan dari kehidupan sosial. Hal ini tentu saja mempersulit penanganan penyakit.

Tetapi meskipun begitu, upaya edukasi masalah-masalah kesehatan ini harus terus dilakukan. Upaya ini sama pentingnya dengan pelayanan medis itu sendiri. Bahkan seharusnya upaya edukasi kesehatan ini dilakukan oleh setiap anggota masyarakat terhadap lingkungannya, dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Peran edukasi kesehatan di dalam keluarga tentu harus dilakukan terlebih dulu oleh ayah dan ibu. Sejak dini, anak-anak dibekali berbagai pengetahuan dasar yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya cara menjaga kebersihan dengan rajin mandi dan mencuci tangan, memelihara kesehatan gigi dengan rajin gosok gigi, memelihara kebersihan lingkungan dengan membiasakan membuang sampah pada tempatnya, tidak memakan atau meminum sesuatu yang dapat menyebabkan sakit.

Para ibu juga berperan penting dalam pengenalan makanan halal, bersih, sehat, dan bergizi. Tidak membiasakan anak jajan sembarangan, bukan hanya dengan tidak memberi mereka uang jajan, tapi juga dengan memasakkan hidangan yang sehat, murah, bergizi, dan tentu saja rasanya disukai anak-anak. Melibatkan mereka dalam proses penyediaannya juga merupakan salah satu bentuk edukasi. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak anak ikut berbelanja, memasak, dan menghidangkannya.

Cara lain memberikan edukasi tentang kesehatan adalah dengan mengajarkan si kecil menanam apotik hidup di rumah. Dengan demikian anak akan faham kegunaan masing-masing tanaman untuk obat penyakit tertentu. Anak dengan tidak langsung diajarkan pula untuk menghemat biaya kesehatannya. Demikian pula dengan mengajarkan anak cara pengolahan sampah. Anak diajarkan cara memilah mana sampah organik dan non organik. Bisa sekalian diajarkan cara membuat biopori dan pengolahan kompos sedeehana di halaman rumah. Hal ini bukan hanya mengajarkan anak tentang konsep go green, juga mengajarkan anak tentang kebersihan sebagai salah satu cara menjaga kesehatan. Selain itu tentu saja meningkatkan kreativitas anak.

Program lainnya adalah meminta anak turut berperan membantu jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit. Misalnya kita bisa meminta tolong anak untuk mengompres adiknya yang sedang demam, membantu mengukur suhu tubuh dengan termometer, atau membantu mengoleskan campuran parutan bawang merah dan minyak telon sebagai obat penurun panas di dahi adik yang sedang sakit.

Edukasi yang lain adalah dengan cara mengenalkan profesi tenaga medis seperti dokter, perawat, dan bidan, kepada si kecil. Biarkan ia merasa tertarik dengan profesi tersebut srhingga kelak ia bercita-cita menjadi dokter, perawat, bidan dan tenaga medis lainnya. Kenalkan juga dia dengan fasilitas pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, posyandu, dan apotik. Ambulans dan kursi gigi juga boleh kok diperkenalkan. Makin banyak anak-anak yang ingin menjadi tenaga medis tentu akan berdampak baik bagi pelayanan kesehatan di Indonesia.

Boleh juga lho ayah dan ibu membuat program liburan yang bertema kesehatan. Misalnya dengan mengajak anak membuat scrapbook bertema menjaga kesehatan di rumah dan di sekolah, profesi medis dan sarana medis, dan aneka tema lain yang berhubungan dengan kesehatan. Tentu semakin kreatif ibu dan ayah akan semakin baik dan seru.

Di sekolahpun, bapak dan ibu guru punya peran yang sama pentingnya. Dengan kreativitas yang tinggi, selalu akan ada cara yang fun dan menarik bagi siswa untuk mengenali cara-cara menjaga dan memelihara kesehatan. Tentu tidak harus dengan biaya yang tinggi sehingga membebani siswa dan orang tuanya.

Pendidikan tentang kesehatan di sekolah juga dapat diberikan lewat kegiatan ekstra kurikuler. Beberapa jenis kegiatan ekskul yang dimaksud seperti Dokter Kecil, Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka, Pecinta Alam, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), dan Kerohanian, atau juga klub-klub ketrampilan.

Singkatnya, pendidikan kesehatan ini memiliki manfaat yang luas. Tidak hanya sebagai upaya pencegahan berbagai penyakit, juga sejak usia dini, anak sudah dibimbing untuk kreatif dan proaktif untuk memanfaatkan potensi alam dan dirinya sendiri untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Dengan demikian, mereka dapat menghemat biaya kesehatan yang tidak bisa dibilang murah itu.

Upaya edukasi inipun tidak hanya tanggung jawab pemerintah dan sekolah. Orang tuapun memiliki tanggung jawab yang sama dan dapat melakukannya dengan kreativitas yang tak terbatas. Jadi kita juga bisa membantu pemerintah dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Dimulai dari diri kita, untuk lingkungan terkecil kita dulu, dan tentu saja dari sekarang. Yuk!

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Edukasi Kesehatan Sejak Dini Kepada Masyarakat, Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah

  1. Wiiih, dalem analisisnya teh. Sukses ngontesnya, ya. Eh,kali aja dari kontes2an blog atau edukasi kesehatan ini bias dapet ide buat novel lagi heuheu….. Siap buat baca buku teteh yg terbaru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s