Sehat Milik Semua: Anak dan Ibu Sehat, Negara Kuat

image

Anak dan Ibu Sehat, Negara Kuat
(Sehat Milik Semua)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Sehat Milik Semua, LKC dan BlogDetik

Di sebuah Rumah Sakit Umum, seorang ibu hamil tampak kebingungan. Matanya melihat ke kiri dan kanan, seolah berharap menemukan seseorang. Wajahnya cemas dan bingung, sementara tangannya tak henti mengelus perutnya yang memberat.

“Ibu Ade” terdengar suara petugas kasir di dekatnya.

“Ya sebentar”. Ibu hamil yang ternyata bernama bu Ade itu menghampiri loket kasir dengan gugup.

“Tiga ratus lima puluh ribu”.

Ibu Ade tampak kaget. Tapi ia tetap berusaha merogoh-rogoh tas besarnya yang berwarna hitam dan sudah kelihatan rusuh.

“Pakai cash atau kartu?” Alih-alih memahami kegelisahan bu Ade, kasir itu bertanya dengan nada datar namun makin membuat bu Ade panik.

Perempuan berkerudung putih yang sedang hamil tua itu menelan ludah. Dipaksakannya menjawab “Maaf mbak, saya… saya mau ambil ATM dulu. Boleh?”

“Kalau kartu ATM-nya bisa debit langsung di sini saja, bu. Ngapain ke ATM segala?”

“Anu… ATM saya… gak bisa debit, mbak”.

Si mbak kasir berdecak kesal dan menjawab dengan ketus. “Lain kali uangnya disiapkan dulu dong, Bu. Kan antriannya jadi panjang begitu! Cepetan ya bu. Jangan coba-coba kabur!”

Spontan wajah bu Ade menjadi hangat karena malu. Tubuhnya yang sejak pagi belum sempat diisi sarapan karena harus mengantri di rumah sakit bertambah lemas. Dengan sempoyongan bu Ade menyeruak keluar dari antrian sambil menahan tangis. Masih sempat didengarnya pula omelan dan celaan beberapa pengantri. Hatinya berkata perih, sudahlah jangan berharap rasa kasihan di sini.

Kasus di atas bukan sekali dua kali terjadi. Bukan cuma bu Ade yang mengalaminya. Untung saja saat itu pertolongan Tuhan segera datang. Secara kebetulan bu Ade bertemu sahabat lamanya yang akan memeriksakan kehamilan di RS tersebut. Sahabatnya segera memberinya uang sejumlah yang dibutuhkan. Bu Ade pun terbebas dari masalah. Selanjutnya sahabat bu Ade mengajukan beberapa solusi untuk ibu hamil yang datang dari kalangan dhuafa atau miskin seperti dirinya. Salah satunya dengan menghubungi Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa.

Memang sulit menyelesaikan masalah pelayanan kesehatan bagi kalangan dhuafa. Terutama bagi kaum ibu dan anak-anaknya. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk menangani kesehatan ibu dan anak. Dimulai dari masa mengandung yang membutuhkan pemantauan dan penanganan serius yang harus dilakukan oleh Dokter Spesialis Kandungan (Obstetri dan Ginekolog), masalah gizi yang harus ditangani ahli Gizi. Belum lagi jika ada masalah atau penyakit lain seperti diabetes, jantung, tekanan darah, dan penglihatan misalnya.

Di Rumah-rumah Sakit Umum serta Rumah Sakit Ibu dan Anak, biaya setiap komponen tidak murah. “Periksa lab untuk cek darah aja mahal bener”, keluh bu Ade. “Gak usah deh periksa yang lain mah. Gak mampu. Belum ntar mikirin lahirannya”.

Ya. Komponen biaya melahirkan juga sangat tinggi. Apalagi jika dibutuhkan tindakan khusus seperti induksi, vakum, dan operasi caesar (sectio). Tak heran jika banyak kasus bayi baru lahir dilarikan orang tuanya dari RS karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya bersalin. Ada juga beberapa kasus pihak RS terpaksa menahan bayi karena orang tuanya belum melunasi biaya bersalin.

Di sisi lain, ketiadaan biaya menjadi penyebab utama tingginya kematian ibu dan bayi serta anak-anak. Karena tidak ada biaya, ibu, bayi, dan anak yang memerlukan tindakan medis tidak bisa segera ditangani. Akhirnya nyawa ibu dan anak tak bisa tertolong.

Paling tidak ada 3 kasus yang dialami teman saya karena ketiadaan biaya ini. Seorang teman saya meninggal dunia pascaoperasi caesar karena jahitannya robek. Ia tidak bisa kontrol ke RS karena tidak punya cukup biaya. Akhirnya ia meninggal dunia karena pendarahan di rumah kontrakannya. Seorang ibu yang lain, juga teman saya, nyaris meninggal dunia karena postpartum bleeding (pendarahan pascamelahirkan) ketika ia baru pulang dari RS. Sebetulnya dia masih harus istirahat di RS, tapi dia memaksa pulang karena ‘ngeri’ melihat angka tagihan biaya RS. Seorang ibu, teman saya juga, harus merelakan bayi pertamanya tak tertolong karena masalah jantungnya sebab ia tak mampu membawa bayinya ke RS jantung. Ibu ini memilih melahirkan di bidan.

Sebetulnya pelayanan kesehatan dari pemerintah untuk keluarga miskin juga sudah semakin membaik. Salah satunya adalah program Jampersal. Program jaminan persalinan adalah program pembiayaan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas dan KB pasca lahir, dan pelayanan bayi baru lahir. Jampersal ditujukan bagi semua ibu hamil yang belum memiliki jaminan persalinan.

Selain itu pemerintah juga terus meningkatkan mutu pelayanan dan perlengkapan Puskesmas dan Posyandu sebagai basis pelayanan kesehatan ibu dan anak dengan biaya ekonomis. Bahkan sudah ada beberapa Puskesmas yang bisa melakukan pertolongan persalinan dan bayi neonatal.

Tetapi keluarga dhuafa atau miskin di Indonesia memang banyak sekali. Harus ada uluran tangan dari pihak swasta dan masyarakat. Salah satunya Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa yang dua programnya berkaitan langsung dengan kesehatan ibu dan anak dari keluarga miskin. Program itu disebut Pondok Keluarga dan Masyarakat Sehat (PzkMS) dan Pos Sehat.

PKMS berbasis Posyandu, yang menyelenggarakan Revitalisasi Posyandu dengan meningkatkan fungsi dan kinerja Posyandu agar dapat memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan, serta status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan dan ditingkatkan dengan melibatkan kader. Program ini sudah berjalan di beberapa lokasi posyandu di kantung-kantung kemiskinan di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi.

Sedangkan Pos Sehat adalah upaya LKC melakukan pelayanan kesehatan di kantung-kantung kemiskinan di berbagai daerah dengan cara merangkul elemen-elemen masyarakat seperti masjid, karang taruna, dan yayasan sosial sekitar. Program yang dilaksanakan adalah pemeriksaan dan pengobatan gratis secara berkala serta edukasi kader.

Dalam kasus bu Ade, dia dengan bantuan sahabat lamanya berhasil menemukan lokasi PKMS terdekat dengan rumahnya yaitu di daerah Tangerang. Ia juga berhasil mendapat bantuan pembiayaan pasien ketika melahirkan.

Tentu masih banyak kasus menyedihkan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak dari keluarga miskin. Padahal jika ibu dan anak sehat, negara ini akan kuat. Bukankah ibu yang sehat lebih berpotensi melahirkan anak yang sehat, dan anak yang sehat adalah aset penting bagi sebuah negara, dari keluarga manapun anak itu berasal? Sudah waktunya seluruh masyarakat ikut peduli dengan program ini. Salah satunya dengan ikut mendukung dan membantu LKC untuk mewujudkan kesehatan untuk semua. Ini adalah masalah tentang kita, tentang ibu kita dan anak-anak kita.

image

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s