Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau dan Teknologi Subreservoir Air Hujan di Perkotaan

Pemanfaatan Teknologi Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada Daerah Perkotaan sebagai Alternatif Penanggulangan Banjir Tahunan

Sebagian besar warga kota-kota besar, seperti Jakarta kita ini, pasti sudah sangat akrab dengan banjir tahunan yang biasa menghadang di akhir tahun hingga awal tahun berikutnya. Sudah berbagai cara dilakukan, namun tampaknya banjir tahunan masih akan setia menemani warga perkotaan bersama dengan datangnya musim hujan.
Bila jumlah air (hujan) yang datang besar, sementara kemampuan tanah menyerap air rendah dan tidak tersedia alur agar air tersebut dapat bergerak ke tempat lain, maka air yang tidak terserap akan menggenangi permukaan tanah. Bila air yang menggenang tersebut mengalir ke tempat lain, disebut aliran permukaan (runoff).
Runoff secara alami akan berkumpul dan menggenang di tempat yang lebih rendah, seperti danau, rawa, atau masuk ke sungai dan terus mengalir menuju laut. Bila jumlah air yang masuk ke sungai lebih besar dari pada yang mengalir ke laut, maka air akan meluap dan menggenangi lahan di sekitar sungai tersebut. Genangan air yang cukup besar ini yang disebut banjir.
Peningkatan volume aliran permukaan akan semakin besar bersamaan dengan semakin banyaknya alih fungsi lahan yang porous seperti sawah, hutan, dan perkebunan, menjadi lahan berpenutup permanen yang kedap air, seperti jalan, perumahan, bangunan, dan pabrik. Hal ini banyak terjadi di perkotaan, apalagi yang sudah sangat besar seperti Jakarta.
Lapisan kedap air ini dapat menyebabkan kemampuan penyerapan air dan laju infiltrasi tanah berkurang, dan merosotnya cadangan air di musim kemarau akibat makin berkurangnya sistem penyimpanan air tanah.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko banjir di wilayah perkotaan, antata lain melalui aplikasi teknologi sistem penampungan air hujandenagn subreservoir air hujan pada Ruang Terbuka Hijau (RTH). Pada  wilayah kota terdapat paling sedikit 30%  RTH yang terdiri dari 20% RTH publik dan sisanya adalah RTH privat. Penyediaan dan pemanfaatan RTH adalah untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis dan kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi.
Kolam retensi adalah prasarana drainase yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air hujan di suatu wilayah. Selain itu kolam retensi dapat pula dirancang sebagai tempat wisata air, tempat berekreasi dan berolahraga bagi warga sekitar lokasi.
Kolam retensi juga memiliki kelemahan, karena di sana sering terjadi pendangkalan akibat lumpur atau sampah yang masuk ke dalamnya, maka harus dilakukan pengerukan berkala dan membutuhkan lahan yang cukup besar. Lahan bagian atas kolam juga tidak bisa dimanfaatkan kecuali untuk penampungan air hujan, dan kualitas air tampungannya dapat terkena pencemaran dari sistem drainase kawasan tersebut.
Namun demikian, kawasan RTH dapat digunakan sebagai konservasi dan penampungan air limpasan dengan aplikasi subreservoir air hujan atau kolam retensi untuk pengendalian genangan air (banjir). Sejauh mana kemampuan RTH dalam mewujudkan hal tersebut tergantung pada besarnya curah hujan, luasnya kawasan RTH tersebut, dan aplikasi teknologi konservasi dan penampungan air hujan yang cocok dengan fungsi-fungsi RTH di perkotaan.
Pada tahun 2011 dihasilkan teknologi Subreservoir Air Hujan untuk RTH. Subreservoir adalah model tampungan, pemanfaatan dan peresapan air hujan dari atap rumah dan bangunan, yang akan dibangun di bawah permukaan tanah kawasan RTH, dan bagian atasnya tetap dapat berfungsi sebagai RTH perkotaan.
Ada beberapa RTH perkotaan, seperti RTH pekarangan, baik pekarangan rumah, kantor, dan bangunan-bangunan lain. Ada juga RTH taman dan hutan kota, mulai dari Taman RW, Taman Kompleks, hingga Taman kota dan sabuk hijau (green belt). Ada juga RTH yang disebut sebagai RTH jalur hijau jalan yang meliputi pulau jalan, median jalan, jalan pejalan kaki, dan ruang yang ada di bawah jalan layang. Terakhir ada yang disebut dengan RTH fungsi khusus, yaitu sempadan rel kereta api, jalur hijau listrik tegangan tinggi, sempadan sungai dan pantai, pengaman sumber air baku/mata air, dan pemakaman.
Jadi dengan demikian, sebenarnya masih banyak wilayah pada perkotaan yang dapat digunakan sebagai RTH dengan teknologi Subreservoir Air Hujan. Secara umum, ini bukan hanya dilakukan oleh pemerintah dan sektor swasta yang bergerak dalam bidang pembangunan prasarana fisik, tapi juga dapat dilakukan oleh masyarakat secara pribadi atau berkelompok.
Pemanfaatan pekarangan rumah untuk pembuatan biopori. Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya,  seperti cacing, perakaran tanaman, rayap, dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Singkatnya, biopori adalah sebuah proses alami dalam meresapkan air ke dalam tanah.
Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca yaitu CO2 dan metan, serta menafaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.
Lubang resapan biopori diaktifkan dengan memasukkan sampah organik ke dalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekomposisi ini dkenal sebagai kompos. Kompos ini dapat dipanen dalam waktu tertentu dan dijadikan pupuk berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias dan sayuran.
Jadi kitapun sebagai warga masyarakat yang tinggal di perkotaan bisa turut mencegah banjir, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi biopori sebagai subreservoir air di ruang terbuka hijau milik kita, yaitu di halaman atau pekarangan rumah kita.
Sebetulnya masih banyak yang bisa kita lakukan. Kuncinya adalah mau dan segera. Segera melakukannya dari sekarang, dari diri sendiri. Siapa tahu jika semua warga berpikiran sama dengan kita, lambat laun kota kita menjadi makin hijau dan perlahan dapat terbebas dari banjir.

Tulisan ini merupakan pengembangan dari data dan tulisan yang terdapat pada:
http://puskim.pu.go.id/publikasi/jurnal/jurnal-permukiman-vol-7-no-3-november-2012/kajian-subreservoir-air-hujan-pada-ruang-terbuka-hijau-dalam-mereduksi-genangan-air-hujan/
http://www.biopori.com
http://www.biopori.com/keunggulan_lbr.php

Diikutsertakan pada lomba blog Kementerian Pekerjaan Umum http://puskim.pu.go.id/produk-litbang/teknologi-terapan

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s