Sketsa Rantau Melayu

Sketsa Rantau Melayu

Judul : Sketsa Rantau Melayu
Penulis : Sugiarti dkk, FLP Riau
Penerbit : FLP Kreativa, Bekasi, 2013
Jumlah halaman : 126
Format : e-book

Terus terang saya pertama kali tertarik ketika membaca judul buku ini di aplikasi Qbaca.  Jadilah ia e-book pertama yang saya download di sini. Mengapa saya tertarik?
Pertama, pemilihan judul yang tak biasa. Judulnya jauh dari bayang-bayang serbuan genre populer yang kini merajai dunia perbukuan di tanah air. Judul Sketsa Rantau Melayu adalah sebuah judul ‘dari masa lalu’, yang menerbangkan ingatan saya pada buku-buku tentang kebudayaan Melayu yang saya baca ketika saya masih di bangku SD. Rindu yang memanggil-manggil itu membuat saya segera men-download buku ini.
Kedua, buku ini seperti yang saya baca sepintas, adalah buku antologi atau kumpulan cerpen yang ditulis oleh teman-teman saya dari Forum Lingkar Pena wilayah Riau. Seperti kita ketahui FLP telah banyak menelurkan penulis-penulis handal kebanggaan tanah air. Saya yakin, pasti teman-teman yang menulis buku ini juga sudah melewati berbagai tahap pembinaan penulisan, berikut seleksi ketat untuk naskahnya bisa tampil di antologi. Saya juga sampai sekarang masih mengalami seleksi ketat setiap kali ingin ikut serta dalam proyek-proyek antologi.
Ketiga, saya orang Melayu. Saya selalu cinta pada tanah asal nenek moyang saya itu. My faternal grandma adalah perempuan keturunan Pontianak-Bangka. Tradisi Melayu juga amat kental di keluarga besar ayah saya, baik yang ada di Pontianak maupun di Jakarta. Sentimen kampung asal memang sangat kuat di dalam diri saya. Setiap kali menemukan karya sastra Melayu, saya selalu jatuh hati. First love saya pada karya sastra Melayu adalah ketika saya membaca karya-karya Tengku Amir Hamzah, seperti Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi, yang berlanggam Melayu. Tengku Amir Hamzah sendiri adalah seorang pangeran kelahiran Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur.
Jadi, saya menaruh harapan besar terhadap antologi ini. Begitu selesai men-download, langsung saya lahap sesiangan ini. Lalu? Boleh kan saya langsung kasih bintang 3 dari 5 bintang, seperti yang biasa dilakukan para pembaca di Goodreads. Apa alasan saya dengan pemberian bintang 3? Mengapa bukan bintang 2 atau bintang 4 misalnya?
Pertama, kerinduan saya akan tanah Melayu terpuaskan dengan antologi ini. Buku ini dengan rinci dan sangat detail menjelaskan hampir semua aspek Melayu, dari mulai tradisi yang ada pada suku Melayu, terutama Melayu Riau, bahasa, hingga letak tempat-tempat yang spesifik. Serasa kita sedang berkeliling di daerah Riau dan menyaksikan Tradisi Megang dan tradisi Mandi Safar, misalnya.
Beberapa bagian malah terlalu rinci sehingga penuh dengan informasi, seperti ketika membahas tentang sastra Melayu di bagian-bagian cerpen awal. Sebetulnya bagus. Saya sendiri bukan penulis yang menganggap too much information could be such dump information. Bagi saya, silakan memasukkan semuaaa yang ingin penulis masukkan dalam karyanya. Semua ilmu pasti berguna. Nggak ada info yang nggak perlu. Bahkan yang tadinya kita anggap tidak penting, bisa jadi penting suatu saat nanti. Jadi, nggak apa-apa banyak info kan?
Taaapiii….
Sebaiknya, penulis memerhatikan jenis karyanya. Jika novel, informasi tersebut sebaiknya disebar dalam bab-bab atau sub bab yang berbeda. Jangan semua dikumpulkan dalam satu bab apalagi satu sub bab atau satu scene. Ibaratnya kita datang ke suatu pesta dimana banyak tersedia makanan dan minuman, kita memang jadi lapar mata. Tapi kalau kita paksa diri kita makan semua makanan itu dalam satu waktu, boro-boro enak kan? Yang ada, kita malah blenger. Kekenyangan dan… sakit perut/ Begitu juga persebaran info dalam sebuah karya.
Jika karya itu berupa cerpen, bagilah info itu sedikit dulu. Sesuaikan dengan porsi imajinasi, paparan tentang hal lain, dan dialog. Khawatirnya, cerpennya jadi seperti artikel. Jadi lebih berat. Dan bagi pembaca yang tidak terlalu suka melahap yang berat-berat, akan terasa membosankan. Sayang, jika pembaca sudah buru-buru menutup bukunya, sementara sebenarnya ceritanya seru.
Nah, pada umumnya, kisah-kisah dalam antologi ini terjebak dalam kasus seperti di atas. Untunglah saya termasuk avid reader yang masih cukup bersemangat lanjut terus membaca, meski saya jeda-jeda juga.
Paparan-paparan panjang dengan alinea yang penuh seringkali membuat kita harus tarik nafas dan berhenti sejenak. Sementara, menurut saya sih, lebih asyik kalau diimbangi dengan porsi dialog yang cukup. Kumpulan cerpen ini terasa kering dialog, dan dipenuhi diksi-diksi panjang. Bagi pembaca muda, mungkin agak melelahkan.
Kedua, terlepas dari hal-hal yang saya sebutkan tadi, sangat informatif dan menambah kekaguman kita akan kebudayaan nusantara, khusunya kebudayaan Melayu Riau. Teman-teman penulis buku ini sangat hebat dalam riset. Untuk itu, saya salut sekali. Kekayaan seorang penulis di dalam karyanya, terlihat dari seberapa dalam dia meriset data untuk karyanya.
Terus terang, banyak hal yang saya dapat dari buku ini. Wawasan, ilmu, dan kecintaan terhadap tanah Melayu serta kebudayaannya. Jarang ada yang mengangkat kebudayaan sebagai latar belakang sebuah cerpen di zaman sekarang ini, terutama jika penulisnya adalah penulis muda. Jerih payah teman-teman FLP Riau ini sangat luar biasa.
Selesai menamatkan buku ini, saya jadi iri. Kapan ya saya bisa menghasilkan karya dengan riset sedalam ini? Selamat ya, teman-teman FLP Riau

Naskah ini diikutsertakan pada lomba resensi Qbaca ( http://qbaca.com/user/signup )
Supported by https://twitter.com/qbaca dan https://facebook.com/qbacabuku

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s