Jingga (coba2 bikin cerpen remaja lagi ah)

J i n g g a

You’re just too good to be true
Can’t take my eyes off you
Could be like heaven to touch…
(“Can’t Take My Eyes Off You” a song by Andy Williams)

Scene 1

“Jadi kamu masih mau nekad buka lapak lagi di dekat ruang dosen?” tanya Mella, sahabatku, ketika kuliah Teknik Pengecoran selesai. Aku masih sibuk memasukkan catatan-catatan kuliahku yang berhamburan ke dalam ransel dan hanya menyempatkan diri mengangguk.
“Ntar kalau dibubarkan sama pihak dosen gimana, Me?” tanyanya lagi. Aku menggumamkan kata ‘cerewet’ yang moga-moga tak terdengar olehnya, yang menurutku sih, memang telinganya agak parah.
“Hoooiii, Aimee, aku ngomong sama kamu dicuekkin terus dari tadi!” Seru Mella kesal.
Aku menoleh. “Ya udah tenang aja, kali, Laaa. Kan belum pernah juga ada cerita kalau ada dosen yang membubarkan bentuk kreativitas mahasiswanya. Apalagi mahasiswanya itu kayak aku”.
“Kayak kamu gimana maksudnya?”
“Yaa, kayak aku gini. Asisten perpustakaan Fakultas yang cantik jelita, ramah, suka menolong, dan selalu menyediakan kebutuhan para dosen cewek”, jawabku sedikit menyombongkan diri.
Ya, siapa sih yang tak kenal Aimee Farahdiba, anak Teknik Material UI, yang meski tidak seberapa pintar dalam perkuliahan, namun sangat pintar dalam mencari uang sambil kuliah. Apa saja kulakoni agar aku bisa tetap kuliah, sebab ayahku yang hanya pensiunan guru SMP sudah meninggal dunia sejak aku duduk di bangku SMA, dan ibuku hanya seorang pedagang obat di Pasar Blok A, Cipete. Aku mengajar privat dan baca Quran untuk anak-anak SD hingga SMA, jadi asisten Perpustakaan Fakultas, dan jualan. Macam-macam yang kujual, ada kertas kalkir untuk menggambar teknik dan untuk digunakan pada hampir semua mata kuliah Studio Perancangan anak Arsitektur, majalah, jilbab dan busana muslim, suvenir, kartu ucapan, hingga parfum, dan pulsa. Saking ngetopnya aku sebagai bandar jualan, tak jarang ada dosen yang membeli dan memintaku ‘gelaran; jualan di ruangan mereka.
Nah, kalau tiba-tiba aku punya ide cerdas buat buka lapak di pelataran ruang dosen, apa itu sebuah kesalahan?
Kemarin sukses lho. Banyak yang beli, baik dosen, karyawan dan karyawati admin, sampai mahasiswa dan alumni yang kebetulan lewat situ. Tapi waktu itu pak Tarjo, ketua jurusan, sedang tidak di tempat. Nah, tadi pagi, menurut Mella, si doi sudah muncul. Aduuh, dia itu galak sih nggak ya. Tegas mungkin tepatnya. Dan… suaranya menggelegar. Itu yang bikin aku suka lemas kalau tiba-tiba dia memanggilku. Maksudnya bukan marah, tapi sudah bisa membuat kita yang jadi lawan bicaranya mengkeret ketakutan.
“Kalau si Babeh manggil kamu, aku nggak tanggung jawab lho” kata Mella sambil melangkah keluar kelas.
“Ya nggak mungkinlah aku minta tanggung jawab kamu”, balasku sambil mengancungkan dua jempol ke arahnya. Hayo, semangat, Aimee, jangan sampai mundur duluan. Ingat lho, uang sekolah ketiga adikmu harus dilunasi bulan ini. Kalau tidak, mereka tidak bisa ikut ujian, hatiku menyemangati. Kurapikan jilbab jingga yang menutup rambutku. Semangat, Boss, ujarku perlahan pada diri sendiri.

Scene 2:

“Jadi lu wisuda bulan depan kan, Rid?” Haris, sahabatku sejak kuliah di Teknik Elektro, menjajariku.
“Ya jadilah. Kenapa mesti nggak jadi?” Aku menjawab pertanyaannya yang aneh itu dengan balik bertanya. Dia mengambil koran di tanganku dan dibola-balik tak jelas.
“Gue kira lu malas wisuda”, jawabnya lagi, tenang. Aku tahu, matanya sibuk meneliti kolom Lowongan Pekerjaan.
“Kenapa malas?”
“Lu kan belum punya PW”.
Buat yang belum faham, PW adalah pendamping wisudawan, yaitu pasangan si wisudawan atau wisudawati. Hah, pentingkah?
“Memangnya wajib? Kan yang penting sudah lulus sidang, bayar, ambil undangan. Itu doang kan?”. Dari balik koran, Haris mencibir. “Lagian lu sih kebanyakan kriteria. Harus punya muka lucu lah, ya lu kawinin aja badut. Harus pinter lah. Ya ada sih, Marie Curie, tapi sudah mati. Harus mandiri dan kreatif lah. Lu itu mau cari PW atau mau cari karyawan sih?”
Berisik, gumamku.
“Kan lu jadi nyesel sendiri. Puluhan tahun kuliah, nggak juga dapet cewek”.
“Aku kuliah mau cari ilmu, cari gelar, bukan cari cewek”.
“Ah, yang bohong?”
“Susah ngomong sama orang yang otaknya sejenis otak reptil kayak kau, Ris”, gerutuku sambil bangkit berdiri/ Haris masih duduk di bangku depan ruang kuliah, dan menolehku.
“Mau kemana lu?”
“Perpus, where else?”
“Bulukan di perpus lu. Atau jangan-jangan PW lu nanti adalah hantu perpus?”
“Terserah kau lah, Ris!” Pusing aku mendengar celoteh si Haris itu, Kayak dia yang sudah punya PW saja. Setahuku, dia termasuk yang tidak laku-laku deh. Kenapa pula dia berkicau dengan semangatnya tentang PW?
Kutinggalkan manusia berambut kucai itu. Tak peduli aku bahwa koranku masih ada padanya. Nanti biar kubeli lagi yang baru.

Scene 3

Ini dia tempat paling nyaman buatku, setelah masjid kampus dan mushala Fakultas. Perpustakaan Fakultas. Tempatnya luas, dikelilingi buku dimana-mana, ber-AC, dan punya banyak meja yang memungkinkan aku tidur tanpa diusik orang. Berbeda dengan masjid yang nyaman, tapi tidak cukup aman untuk tidur berlama-lama. Aku pernah beberapa kali ketiduran di masjid, dan selalu bangun dengan kaget ketika badanku diguncang-guncang petugas masjid. “Mas, Mas, bangun, Mas. Nggak boleh tidur di Masjid!”.
Dan oh, ini yang mau kuceritakan pada kalian. Belakangan ini poin Perpustakaan sebagai tempat ternyaman bagiku meningkat drastis. Ada asisten baru di sana, anak mahasiswi juga, cantik, wajahnya selalu tersenyum dengan gigi kelinci dan hidung mungilnya yang unik. Dia kurus dan agak mungil untuk dibandingkan denganku. Wajahnya selalu terbingkai rapi oleh jilbab berbagai motif ceria, yang lucunya, selalu berwarna jingga. Sumpah, aku jadi tak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Jangan tanyakan padaku siapa namanya. Aku sungguh bukan laki-laki yang berani memulai bertanya ini dan itu kepada perempuan yang menarik perhatianku, Haris meledekku sebagai ‘geeky boy’. Katanya mungkin aku sampai tua tak akan bisa punya istri, karena aku hanya bisa bicara pada komputer dan benda mati. Hahaha mungkin. Yang jelas, keenam kakakku yang semuanya laki-laki juga modelnya hampir sama denganku, Turunan dari ayahku? Hahaha, sepertinya tidak juga.
Oh ya, satu lagi yang membuatku seolah tertambat pada si Jingga ini adalah sinar matanya yang selalu menyiratkan semangat. Dia seperti sinar matahari yang mampu menularkan kehangatan dan kegembiraan pada orang-orang di sekelilingnya. Aih, mungkin aku berlebihan. Tapi setidaknya begitulah yang kuamati saat dia sedang menjaga perpus.
Nah itu dia, dengan jilbab bunga-bunga kecil berwarna ungu muda, berdasar warna jingga. Cerah dan menyenangkan dilihat. Dia sedang melayani beberapa peminjam buku. Ya Tuhan, aku ingin mendapat senyumnya, sedikit saja. Biar nanti akan kubingkai dia dalam kepala dan hatiku.
“Hai, selamat siang”, sapaku sekasual mungkin.
Sejenak dia menghentikan kesibukannya meng-entry data peminjam.
“Hai, yang kemarin cari Jurnal ya?”
“Ya. Sudah ada?”
“Sudah. Sebentar ya…”
Tunggu, jangan pergi, Jingga. Namun dia sudah berbalik memunggungiku.
“Jun, jurnal yang kemarin saya minta simpankan mana ya?” tanyanya pada temannya, sesama asisten. Yang itu aku cukup kenal, adik tingkatku, namanya Junita.
“Tuh di atas meja. Lu udah makan siang, Me?”
“Ntar aja kali. Kamu?”
“Udah, tuh gue bungkusin buat lu, nasi sama tahu, sama kuah rendang kan?”
Astaga, makan siangnya Cuma nasi sama tahu dan kuah rendang? Dia itu irit, pelit, atau tak punya uang sih? Batinku.
“Thank you banget, Jun, ntar ya saya ganti, kalau selesai jualan”.
Jualan? Jualan apa? Nasi rames?
“Ini jurnalnya. Nggak bisa dibawa pulang ya, Mas, dibaca di sini aja. Bisa difotokopi tapi ada batasan jumlah halamannya. Silakan. Terima kasih dan maaf sudah menunggu”, ujarnya ramah, santun, sekaligus formal. Ada senyum di bibir dan matanya.
Kubalas senyumnya, dan ada yang leleh di dalam diriku. Sempat kuabadikan senyumnya seperti janjiku tadi.
“Ayo, Rid, bertanyalah tentang namanya, jurusannya, nomor telponnya, atau sekalian kata kenangan dan cita-citanya”  Kudengar suara dari sisi hatiku yang entah. Begitu jelas dan terang. Tapi sampai kelu lidahku, aku tak hanya bisa mengucapkannya. Tanpa sadar kuremas kertas bertuliskan entah yang ada di meja di hadapanku dan dia.
Seketika kulihat wajahnya mencelos. Oh, pentingkah kertas itu? Maafkan aku, Jingga…
“M-maaf, saya…” tergagap kukatakan maaf.
“Nggak apa-apa, Mas, hanya daftar barang jualan…” jawabnya pelan, masih sambil memasang senyumnya yang kali ini tak selebar tadi.
“Maaf, Mbak…”
“Nggak apa-apa, Mas, santai aja, masih bisa dibaca kok”.
Bersamaan dengan itu Junita berbalik dan menghampiri kami. “Ada apa, Mas Farid?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, Jun”, dia buru-buru mendahului menjawab. “Silakan, Mas, jurnalnya” ujarnya kemudian, padaku.
Dan hanya itu. Begitulah aku, si kikuk yang menyebalkan ini. Bahkan kesempatan sudah ada di depan mata, aku masih tak bisa bicara yang lebih jelas tentang apa mauku padanya. Haduuuh….

Scene 4

Tak seperti yang dikhawatirkan Mella, alhamdulillah, Pak Tarjo tidak mengusirku. Ia malah membeli beberapa benda dariku, seperti majalah dan jilbab untuk anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMA. Oh, aku pernah bertemu dengan Gia, anaknya itu. Dia cantik, pintar, dan bersemangat. Kata pak Tarjo, Gia akan dikirim kuliah ke Australia selepas SMA nanti. Persis cita-citaku waktu lulus SMA dulu. Sayang kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan.
Tak apalah. Aku sudah sangat bersyukur bisa kuliah di sini, meski harus bekerja keras untuk membiayai diriku sendiri. Bagiku, ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang tak terhingga padaku.
“Assalamu alaikum, Aimee”, sebuah suara mengembalikanku pada bumi tempatku berjualan sekarang. Aku menengadah. Mas Haris, anak Elektro, kakak sepupu si Mella.
“Wa alaikum salam, mas Haris. Ada yang mau mas Haris beli?” Haha, penjual memang kadang harus agresif ya.
“Mella mana?” tanyanya.
“Lagi ke kantin sebentar. Ada pesan, Mas?”
“Tolong sampaikan saya nggak bisa pulang bareng dia nanti. Ada janji dengan teman. Dia pulang sendiri saja.”
“OK, sip. Silakan, Mas, dilihat-lihat barangkali mau belikan jilbab buat Mella”.
“Wah, ogah saya. Anak itu keenakan, apa-apa dikasih. Suruh dia beli sendiri”. Mas Haris dan aku tertawa mengingat kelakuan Mella yang memang cewek matre sejati. Andaikan aku punya kakak sepupu seheboh mas Haris ini, tentu dunia bisa sedikit lebih ceria ya. Aku sih sebenarnya ceria, tapi kadang itu jadi semacam topeng untuk menyamarkan betapa kerasnya hidupku sekarang.
Nah, lihatlah, Tuhan, aku mulai kehilangan rasa bersyukurku. Ampun, Tuhan…
Scene 5

Oh, jadi namanya Aimee. Aimee Shalima Hardianto. Anak Teknik Material. Emailnya adalah aimee.hardianto@kmail.com.
Wow, terima kasih, Junita. Tanpa dia sadari, dia sudah menjadi jalan bagiku untuk mendapatkan sedikit data tentang si jilbab Jingga.
Tadi ketika aku akan mengembalikan Jurnal, si Jingga, Aimee maksudku, sudah tak ada. Yang ada adalah si Junita yang sedang menginput data asisten perpus. Tepat saat itu, kebetulan yang indah, Jun sedang menginput data si Jingga yang kukenali dari fotonya. Tuhan memang Mahabaik. Dia menciptakan kebetulan dengan alasan-alasan yang kadang hanya Dia sendiri yang tahu. Seketika sedikit data itu kusimpan dalam memori otakku.

Scene 6

Haris memintaku menemaninya ke Teknik Material. Mau ketemu seseorang di sana. Mungkin si Mella, sepupunya yang bawel itu. Kuikuti langkahnya hingga ke ruang dosen. Ada lapak jualan semacam Sogo Jongkok di situ. Kok bisa? Siapa yang nekad jualan di sini? Aku langsung berdecak kagum mengingat penjualnya pasti memiliki jiwa enterpreneur jempolan. Kapan aku bisa begini?
Dan jantungku sempurna membunyikan alarm yang mengejutkan ketika kulihat siapa yang berjualan itu. Jingga. Ya, Aimee. Tuhan pasti sedang sangat baik hati padaku hari ini. Diberinya aku beberapa kejutan indah.
Kusiapkan diriku untuk menemuinya. Kubiarkan Haris lebih dulu mencari Mella.
Tapi… tapi….
Mengapa mereka malah ngobrol berdua? Akrab. Seolah sudah sangat lama kenal. Dan… Ya Tuhan, mengapa aku harus kalah bersaing dengan sahabatku yang kukira sama parahnya denganku itu?
Jadi, silakan maki aku. Aku hanyalah pemuda payah nan kikuk yang tak berani melakukan apapun. Bahkan demi seseorang yang mulai mengisi hidupnya akhir-akhir ini.
Aku Cuma belum siap menemukan bahwa mereka ternyata begitu dekat….
Tanpa sempat berkata apapun pada Jingga, aku berbalik.
Aku mungkin akan wisuda tanpa seorang PW-pun…

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s