Dengan Buku Kita Mendunia

Lewat Buku Kita Mendunia

Budaya baca bangsa kita masih rendah. Dari dulu kita sudah biasa mendengar ungkapan ini. Alih-alih merasa sedih atau prihatin, kita malah seakan tak peduli pada kenyataan ini, bahkan mungkin kita sendiri termasuk yang memiliki sikap seperti itu: malas baca.

Jadi, ketika ada anak-anak bangsa yang mencoba untuk melahirkan karya kreatif berupa sastra produk Indonesia, kitapun cenderung tidak tahu. Padahal, jauh sebelum masa sekarang, beberapa penulis hebat asal tanah air telah berusaha mengharumkan nama bangsa di bidang sastra. Di luar negeri, banyak yang mengenal dengan baik buku-buku hasil karya kreatif  dari Pramudya Ananta Toer, Sutan Takdir Alisjahbana, NH Dini, dan beberapa nama lagi.

Di zaman serba moderen inipun, sastrawan-sastrawati muda tanah air telah berupaya keras melahirkan larya-karya sastra produk Indonesia yang berciri khas mengangkat budaya lokal dengan sentuhan moderen. Tak heran industri perbukuan pun berkembang pesat. Bahkan beberapa sastrawan-sastrawati tersebut sudah pula dikenal dunia. Sebut saja Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Andrea Hirata, Ayu Utami, Dewi ‘Dee’ Lestari, Habiburrahman El Shirazy, Maggie Tiojakin, A Fuady, dan masih banyak lagi.

Menggembirakan, bukan?

Tapi tetap saja masih banyak bangsa kita yang memandang aebelah mata atas prestasi ini. Boro-boro bangga dengan karya kreatif para penulis dan sastrawan-sastrawati lokal, membaca karya mereka saja malas. Kurang bergengsi jika dibandingkan dengan karya penulis luar? Ah masak sih? Kalau dari segi kualitas rasanya sudah bisa menyamai kok. 

Yang menggelikan lagi, ada juga sekelompok orang yang suka mengoleksi karya penulis luar, apalagi yang klasik, bahkan sampai rela berburu ke luar negeri. Tapi kalau karya penulis lokal, lebih suka beli bajakan… atau meminjam dari teman atau kerabat. Nah lhooo. Malah ada juga lho yang tega meminta ‘gratisan’ dari penulisnya.

Kalau sudah begini, bagaimana coba? Sudahlah budaya baca rendah, masih ditambah lagi budaya beli buku produk Indonesia juga rendah. Yang tinggi malah budaya bajak-membajak, budaya meminjam (dan malas mengembalikan), serta budaya gratisan. Menyedihkan sekali…

Jadi, menurut saya sih, kalau kita mau mendukung produk Indonesia di bidang sastra dan perbukuan, ayo deh kita tingkatkan minat beli, baca, dan dukung sastrawan-sastrawati lokal. Syukur-syukur kalau mau ikut menambah barisan sastrawan-sastrawati kreatif tersebut dengan mulai menulis. Yuk mariiii….

image

Buku-buku produk penulis lokal 😀

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Dengan Buku Kita Mendunia

  1. Rien Dj says:

    Menarik, Mbak Ifa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s