Langkah-langkah Kecilku

Sejak kecil, saya sudah senang menulis. Apa saja bisa jadi ide bagi saya untuk menulis. Cerpen, novel, puisi, bahkan komik. Memang, disamping menulis, saya juga senang menggambar. Tulisan pertama yang saya publish adalah sebuah novella yang saya tulis tangan di buku tulis bergaris, saat saya kelas 3 SD tahun 1979. Dengan inspirasi yang datang dari lagu lama, “I Left My Heart in San Fransisco” yang dinyanyikan oleh Brenda Lee, atau versi lain oleh Tony Bennett, novella tersebut berlatar belakang kota San Fransisco yang sama sekali belum pernah saya kunjungi. Novella tersebut saya sebarkan kepada teman-teman perempuan yang sekelas dengan saya. Ternyata mereka suka. Jelas ini membuat saya makin semangat menulis.

Pada masa itu, teknologi komputer belum dikenal secara umum di Indonesia. Jadi saya masih dengan tabah menulis setiap karya saya dengan tulisan tangan saya yang bak semut beriring saking kecil-kecil dan rapat. Naskah saya yang pertama dimuat di media massa berbentuk cerpen, dimuat di majalah Hai tahun 1985 sudah mulai menggunakan mesin tik punya papa saya. Tapi sungguh, saya tidak suka mengetik dengan mesin tik. Tutsnya membuat jari kapalan dan suaranya berisik. Tapi mau bagaimana lagi, pada tahun segitu, saya belum juga berkenalan dengan perangkat teknologi bernama komputer.

Ketika penggunaan PC mulai marak, saya sedang mengerjakan sktipsi saat itu, tahun 1991-1993, saya merasa hidup jauuuuh lebih mudah. Dengan semangat, saya mulai rajin menulis cerpen di komputer kantor. Saya bekerja di sebuah majalah remaja nasional, Annida, setelah selesai kuliah.

Sampai saya menikah, juga dengan seorang penulis, komputer dengan monitor bertabung alias berkonde, menjadi barang wajib di rumah. Komputer menjadi sarana utama mencari nafkah. Tak terhitung berapa puluh kali kami ganti dan up grade komputer. Terlebih ketika saya memutuskan resign dan memilih menjadi ibu rumah tangga dan penulis penuh waktu srjak tahun 2004, saya berkantor di rumah yang dilengkapi dengan satu set PC, printer sekaligus mesin faks.

Masalah datang waktu saya hamil anak kedua yang menyebabkan saya tidak terlalu kuat duduk lama di depan komputer. Saved by technology, saat itu mulai berkembang teknologi smartphone alias handphone pintar. Handphone saya adalah Nokia seri Communicator. Waaah jadi deh saya bisa tetap menulis sambil tidur, kemudian sambil menjaga si bayi. Sekitar 6-8 buku saya hasilkan dari handphone tersebut.

Teknologi terus berkembang dan memberikan manfaat serta kemudahan bagi saya, ibu rumah tangga yang penulis ini. Saya kemudian tidak lagi hanya berkantor di satu ruangan di rumah saya. Saya bisa menulis di kamar tidur dengan laptop atau netbook, lalu berpindah ke ruang bermain anak-anak dengan menggunakan handphone. Tak lama bisa berpindah ke ruang belakang sambil mencuci. Tentu yang ini harus lebih berhati-hati. Salah-salah pegang, handphone bisa tercebur ke mesin cuci deh. Untunglah, hal ini belum pernah terjadi.

Gadget yang membantu saya sebagai penulis: netbook dan handphone. Oopss… si Blackberry tak ikut berfoto rupanya.

image

Sekarang bahkan jauh lebih mudah lagi. Saya bisa tetap menulis atau sekedar browsing mencari data dan referensi untuk tulisan dimana saja. Tidak perlu ribet membawa netbook dan charger-nya yang lumayan berat itu. Saya bisa menggunakan iPad, tablet, android, atau Blackberry. Lebih praktis juga, meskipun tentu saja masing-masing dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangannya. Namun yang jelas, saya bisa lebih fleksibel menjalankan profesi dimanapun, sambil ngopi, menunggu anak di sekolah, atau selama di perjalanan.

Yang harus diantisipasi sih…. lebih banyak faktor internalnya. Godaan untuk berlama-lama di jaringan sosial media sembari membahas yang tak terlalu penting, bermain game, atau membaca berita-berita tentang hal remeh-temeh kadang membuat waktu tak terasa berlalu cepat sekali. Padahal deadline sudah di depan mata. Nah ini dia!

image

Gadget kesayangan. Isinya lengkap. Dari program-program terkait pekerjaan, musik, video, ebook, sosial media dan komunikasi, hingga game-game favorit. Saya penggila game tentang naga lho.

Tak terasa, setelah 10 tahun memutuskan menjadi penulis full time, saya telah menghasilkan 39 buku karya sendiri, belum termasuk beberapa yang akan terbit, 38 buku antologi bersama teman-teman penulis lainnya, 5 buku sebagai co-writer, dan ratusan tulisan yang tersebar di media cetak dan online. Saya tak pernah bisa membayangkan, jika saja teknologi tak berkembang sedemikian pesat seperti sekarang ini, apakah saya dan juga teman-teman penulis lainnya masih bisa bersabar menulis. Kira-kira apa ya yang terjadi?

Yang jelas, di era perkembangan teknologi ini, kami para penulis jadi lebih mudah lagi menjalankan profesi. Tapi persaingan jadi makin ketat juga. Apalagi dengan maraknya arena sosial media yang ternyata sangat ampuh sebagai sarana promosi. Ya, saya sih senang saja dengan adanya hal tersebut. Bukankah dengan semakin ketatnya ‘persaingan’, kita akan menjadi lebih bersemangat meningkatkan kualitas dan kuantitas karya kita masing-masing? Lagipula, kita jadi lebih mudah untuk saling belajar. Komunikasi toh sudah lebih mudah dan terbuka. Tak jarang malah saya bisa dengan mudahnya bekerjasama dengan penulis lain untuk membuat sebuah karya bersama, dimana komunikasinya dilakukan melalui kecanggihan teknologi.

Saya yakin profesi lainpun merasakan kemudahan dengan adanya teknologi yang berkembang pesat seperti saat ini. Tidak ada kesukaran yang tak bisa dilampaui. Tuhan telah dengan Sangat Mahabaik menganugerahi kemampuan daya cipta yang luar biasa pada manusia untuk memudahkan kehidupan. Tinggal kita yang menentukan bagaimana kita akan menjalani kehidupan ini.

image

Sebagian dari buku-buku karya saya. Terima kasih, Tuhan, yang mengarahkan jalan saya ke sini. Terima kasih juga bagi para penemu teknologi yang telah memudahkan hidup dan pekerjasn saya. 🙂

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s