(Old Post) Two and a Half Months SIngle Mom (Catatan 2008)

Two and a Half Months Single Mom

 

            Selama ini saya termasuk istri yang ‘setengah mandiri’. Maksudnya dalam banyak hal saya memang mandiri dan kadang bertindak tanpa melibatkan suami. Saya kadang-kadang pergi kemana-mana sendiri atau bersama Akna, putra saya, tanpa diantar suami. Saya membeli beberapa barang juga sendiri. Ngurus-ngurus kerjaan ke penerbit, nego-nego juga sendiri.

            Tapi dalam beberapa hal yang lain saya amat ketergantungan pada suami. Misalnya urusan mobil. Dari mulai nyetir sampai urusan cek ini itunya si kebo (nama mobil kami), saya nyaris buta. Juga urusan detil lain, seperti kapan bayar telpon, listrik, inspeksi kran dan genteng bocor, hingga gimana caranya nyari si Ngkong (tukang kebun yang biasa kami suruh bertukang) yang suka hilang-hilang timbul (kalau lagi dibutuhkan susah banget dicari, giliran nggak dibutuhkan malah nongoool melulu), atau urusan-urusan dengan pak RT, Hansip, tukang sampah, hingga tukang koran.

            Bisa dibayangkan ketika tibalah saatnya ibu ini yang kebiasaan jadi ‘Ratu’ harus menjalani peran single mom. Saya tahu bahwa suami telah mempersiapkannya dengan sangat baik. Dia bahkan bilang kalau dia nggak mau saya dan Akna jadi susah tanpanya. Tambahan lagi, saat itu saya sedang hamil muda dengan keadaan fisik yang cukup memprihatinkan. Saya juga selaku ‘istri-sok-mandiri’ sudah berniat tidak akan mengganggu suami yang akan pergi jauh ke negeri orang dengan ecek-precek nggak penting, soal kran bocor misalnya.

            Tapi, ternyata hari pertama suami tidak di rumah saja saya sudah kena sindrom mau-makan-orang! Gimana nggak?

            Ceritanya suami saya sudah cari supir untuk antar jemput selama dia bertugas jauh. Si supir ini adalah tetangganya supir kantor dan kerjaannya supir angkot. Orang betawi dan sudah 50-an umurnya. Nah, tau kan gimana gaya nyetirnya supir angkot? Kalau dia bawa angkotnya sendiri sih terserah. Lha ini kan dia bawa mobil saya, which is mungkin modelnya gak jauh-jauh dari angkot, tapi kami menganggapnya dan memeliharanya seperti si kebo ini adalah mobil RI-1! Tambahan saya lagi hamil muda. Huh, mendingan naik delman sekalian deh! Jadilah sepanjang perjalanan dari Cinere (rumah saya) ke Cipete (rumah orang tua saya), saya mual-mual dan perut saya sakit sekali kena goncangan! Sudah gitu di rumah ortu saya dia nyelonong aja masuk, mau buang air kecil. Mana ngomong ke ayah saya nggak sopan pula. Huh! Pada perjalanan pulang, lengkap sudah penderitaan saya. Gara-gara dia sok tahu mau cari jalan tikus, eh malah nyasar.

            Nah itu baru soal supir dodol. Belum soal pembantu. Selama ini saya nggak pakai pembantu karena semua kami kerjakan berdua. Tapi karena suami nggak ada, kami cari pembantu pulang pergi. Masih muda, orangnya pendiam, dan nggak macam-macam. Tapi ya ampuuun, kerjanya harus disuruh-suruh dulu. Suatu hari dia lupa nggak disuruh buang air tumpahan AC, hingga becek kemana-mana. Saya kebetulan harus lewat situ karena mau memberi makan ikan dan kura-kura Brazil peliharaan kami. Maka yang terjadi adalah ‘pertunjukan bumil akrobat’ diakhiri dengan saya jatuh terduduk ditumpahi makanan ikan dan kura-kura! Sudahlah sakit luar biasa, malu pula! Huh!

            Itu kisah saya dengan ‘para asisten’. Kadang saya mikir, mendingan nggak usah pakai asisten segala deh. Tapi mengingat capeknya, duuuh nggak janji juga lagi. Alhamdulillah si mbak akhirnya bisa berubah lebih rajin lagi, hingga insiden bumil akrobat tidak terulang lagi:). Kalau si supir malah kebalikannya. Prestasi kerja dan attitude-nya makin buruk dan bikin saya stress. Belum lagi, baru kerja sebulan dengan jam kerja dari jam 7 pagi-jam 12 siang, minta naik gaji pula! Huh, langsung saja dia saya pecat dengan tekad saya: nggak-mau-lagi-lihat-mukanya-seumur-hidup!

            Tanpa supir, saya kepikiran mau nekat bawa mobil sendiri. Toh saya pernah belajar menyetir meski diakhiri dengan nyaris masuk jurang di UI :). Tapi mikir-mikir takut masuk jurang betulan, akhirnya saya urungkan kenekatan itu. Kalau sudah begini, rindu banget disupiri suami! Huhuhuw… berubahlah saya menjadi istri melankolis 😦

            Akibatnya setiap ada acara yang jauh dan repot, saya selalu heboh cari supir. Kasiannya, selalu gagal dan mengakibatkan saya dan Akna harus naik taksi atau angkot. Nggak apa-apa sih sebetulnya, karena saya juga sangat biasa naik taksi dan angkot atau bus kota. Tapi nggak tega saja sama Akna. Masak pas ayahnya nggak ada, dia jadi ikutan ribet begini. Belum lagi masalah pergi ke sekolah.

            Sekolah Akna (juga Vinda dan Vino, sepupu Akna, sekaligus tetangga sebelah) memang dekat. Tapi biasanya suami saya yang mengantar mereka pagi-pagi sekalian dia ke kantor dengan si kebo. Nah setelah si supirpun saya pecat, anak-anak ke sekolah jalan kaki. Maka anak-anak sering ngomel karena saya dan Mama Vinda-Vino harus repot terseret-seret mengantar mereka menyusuri jalan yang ramai dan banyak motor mobil yang jalannya ngebut.

            Masalah yang cukup bikin pusing juga adalah masalah bayar-membayar. Saya melotot kaget saat tagihan telpon dan listrik meningkat tajam. O-oww! Tagihan listrik meningkat karena Akna sudah minta menyalakan AC jam 3 sore. Tagihan telpon melonjak gara-gara anak-anak lagi keranjingan main ‘cartoon network’ on line. MasyaAllah…

            Belum lagi masalah anggaran yang membengkak gara-gara Akna beli mainan melulu. Anak saya ini dekat banget dengan ayahnya. Mungkin karena sama-sama laki-laki, jadi kalau sudah main bareng kompak sekali. Sekalinya ayahnya pergi jauh dan lama, Akna kesepian. Dia bongkar-bongkar mainannya, ngacak-ngacak, lalu segera menjadi bosan. Begitu terus. Tambahan lagi, saya sedang dikejar beberapa deadline tulisan. Saya bisa mengerti betapa betenya Akna. Mau main nggak ada yang diajak main. Main sendiri juga bosan.

            Akhirnya setiap weekend, saya berinisiatif mengajaknya jalan-jalan. Kemana lagi kalau bukan ke mall terdekat, Cinere Mall, Poins Square, Citos, atau PIM? Mau ke tempat-tempat outdoor, sayanya yang nggak kuat. Lagi hamil muda begini.

            Akibatnya memang ‘mengerikan’. Dana keluar tak terasa untuk makan dan beli mainan. Huaaa…!! Tapi ya, bagaimana lagi? Saya juga kan tidak bisa menemaninya bermain karena kondisi fisik yang cepat lelah. Mungkin dengan dibelikan mainan dia bisa asyik sendiri.

            Yang paling menyedihkan adalah perasaan sepi yang sering tiba-tiba mendera. Setiap sore menjelang maghrib, dimana biasanya saya sudah siap-siap menunggu suami pulang kantor, rumah terasa sepiii sekali. Suwung.

            Akna main ke sebelah. Jam 4 sore saya sudah tutup-tutup jendela dan mengunci pintu gerbang pagar. Saya memang agak ngeri menguncinya selepas maghrib, soalnya di depan rumah saya masih kebun kosong. Habis itu saya ngapain? Bengong?

            Paling-paling pindah-pindah channel TV nggak jelas. Saya nggak terlalu suka nonton TV. Baca, atau … mmm yaa, paling enak baca Al Quran, melatih hafalan surat, dan wirid. Itu biasa saya kerjakan sampai maghrib.

            Sepi akan datang lagi pada malam hari, setelah Akna tidur. Biasanya kalau ada suami, kami bisa ngobrol sampai malam, atau sama-sama menulis di kamar. Saya menulis di HP, dia di Laptop.

            Sekarang saya menulis sendirian. Sesekali saya nonton film di channel movies. Tapi tetap terasa asing, nggak nyaman. Belum lagi kalau sudah waktunya tidur. Hampir tiap jam saya terbangun. Hebatnya suara sekecil apapun jadi terdengar. Mungkin karena saya memang agak penakut. Bukan takut hantu atau makhluk-makhluk halus lain. Tapi takut maling, rampok atau sejenisnya. Takut Akna sakit mendadak. Takut tiba-tiba kebanjiran, kebakaran, atau ada bencana alam. Dan takut ada apa-apa pada suami di sana.

            Alhamdulillah biasanya rasa ketakutan itu hilang setelah saya shalat malam. Hati kembali tenang. Sayapun bisa kembali tidur. Akibatnya saya sering kesiangan. Sebab seusai subuh, saya masih mengantuk karena kurang tidur, jadi saya tidur lagi:).

            Sekali waktu, Akna sakit. Giginya tumbuh tidak pada tempatnya, sehingga gusinya meradang dan bengkak. Akibatnya pendengarannya terganggu, dia tidak bisa mengunyah dan menelan, dan badannya panas. Awalnya saya bingung juga. Mau ke dokter, sedang tidak ada dana lebih. Mau diobati sendiri, nggak tahu caranya.

            Akhirnya bismillah, saya kasih dia minyak beruang. Saya oleskan di pipinya yang bengkak dan di tubuhnya yang panas. Begitu berulang-ulang selama tiga hari.

            Alhamdulillaaah… hari keempat panasnya turun, gusinya tidak bengkak lagi, dan ia sudah bisa mendengar kembali. Betapa senangnya saya. Untunglah saya tidak keburu panik membawanya ke dokter. Kalau uangnya nggak cukup, gimana? 🙂

            Selama suami tidak ada itu pula keluarga kami banyak yang sakit. Ibu saya harus bolak-balik terapi akupunktur ke Cimahi. Vinda, ponakan saya, harus dirawat di RS karena typhus. Alhamdulillah, RS nya dekat sehingga tidak menyulitkan saya dan Akna untuk menjenguknya.

            Selain itu, kok ya ada-ada saja barang yang rusak ya? Komputer sama keyboardnya rusak bareng-bareng. Setelah dibetulkan oleh adik ipar, malah sound systemnya rusak. Saya utak-atik, alhamdulillah bisa kembali seperti semula. Kran air di bak cuci bocor, pintu mobil rusak (saya baru tahu ini ulah si supir yang ceroboh, sayangnya dia sudah keburu dipecat, kalau belum, pasti saya minta dia ganti rugi!), lantai ruang tempat mengaji pecah, banyak rayap di dekat gudang, printer nggak mau connect, fax rusak, koneksi internet dengan modem dudul melulu, eternit di ruang makan bocor…Aaarrrggghhh… stress saya! Hebatnya lagi, saya nggak tahu kenapa mereka rusak bareng-bareng dan disaat suami nggak ada pula???

            Tapi saya berusaha (sok) tenang. Setiap suami telpon atau sms, saya nggak cerita. Everything seems sooo OK-lah. Padahal mah kepala nyut-nyutan juga.

            Awal suami saya pergi, saya rajin lihat kalender. Kapan ya dia pulang? Sampai sahabat saya, Bunda Yanti, senang meledek, “Waaa, dia menghitung hari ya? Udah berapa minggu ayahnya Akna pergi?” Aaarrrggh… Tapi lama-lama karena banyak hal yang membuat saya ‘ricuh’ sendiri itulah, saya jadi lupa menghitung hari. Terlalu banyak yang harus saya selesaikan sampai lupa hari.

            Hingga tak terasa dua bulan lebih sedikit sudah. Tiba waktunya suami pulang kembali ke tanah air. Kangen? Jelas! Tapi yang mendominasi perasaan saya: legaaa. Akhirnya saya punya teman lagi untuk memecahkan semua persoalan yang nggak-saya-banget-deh itu! Saya akui memang saya bukan termasuk orang yang detil, yang senang mengurusi yang ribet-ribet. Sementara suami saya sebaliknya.

            Makanya waktu Bunda Yanti tanya gimana perasaan saya jadi single mom selama dua bulan setengah, saya jawab, “One word; incomplete!”. Ya, saya merasa nggak lengkap tanpa suami. Merasa ada yang kurang, yang tidak bisa saya tangani sendiri. Sahabat saya yang juga tempat saya curhat, membalas sms saya tentang perasaan saya pas nggak ada suami, “Ternyata kita masih butuh suami ya, Fa?”

            Hehehe… iyalaaah! Sepintar-pintarnya, segesit-gesitnya, dan semandiri-mandirinya kita, ternyata kita masih sangat butuh figur suami, figur ayah, untuk melengkapkan peran berumah tangga. Untuk pertama kalinya, konsep saya tentang kemandirian perempuan bergeser hanya karena ricuh dengan tetek bengek rumah:).

            Dan kini, setelah suami kembali ada di sisi saya, saya malah mengambil pelajaran. Harusnya saya juga bisa mulai mengurus yang detil-detil itu. Kemarin, saya sempat bilang ke suami, “Kayaknya ibu mesti les menyetir mobil lagi deh. Biar nggak repot kalau ayah nggak ada”.

            Suami saya hanya tersenyum. Dia tahu, saya penggugup sejati yang juga latah, disamping bermasalah dengan penglihatan. Bisa gawat juga kalau saya nekat bawa mobil.

            Lalu soal ubin yang pada pecah itu, suami menyuruh saya mengontrol Ngkong saat menggantinya. Hasilnya? Hmm… not bad. Ketemu sih, ubin yang semotif, tapi warnanya beda. Suami sempat ngomel. Tapi yaa gimana? Sudah terlanjur dipasang sama si Ngkong. Namun paling tidak, saya sudah mengerti teknisnya harus bagaimana.

            Terakhir, ini baru saja terjadi, saat suami sudah berangkat ke kantor. Komputer saya hang, nggak bisa ‘nyala’. Seperti biasa, saya panik telpon suami. Saya kan hanya bisa pakai, nggak terima bongkar. Suami menyarankan dimatikan lalu dinyalakan. Sudaaah… tapi nggak ada perubahan!

            Dengan sebal saya cabut semua kabel komputer. Termasuk cable data yang menghubungkan dengan modem dan kabel primer ke stabilizer. Saya tinggal bikin teh (pereda stress nih), lalu bismillah, saya sambungkan dan nyalakan kembali.

            Ternyata ada perubahan di AMI BIOS nya. Cape deee. Iseng saya utak-atik. Tadaaa… horeee.. nyala lagiii! Dengan gembira saya telpon lagi suami. I did it! Yeaaahhh! Alhamdulillah…

            Jadi kesimpulannya: sebetulnya semua masalah bisa ditangani dengan satu resep: TENANG dan JANGAN RUSUH. Kalau kita masih gugup, panik, stress, berarti sebenarnya kita belum mandiri, karena masih tergantung pada suami. Tergantunglah hanya kepada Allah. Usaha yang tenang dan berdoa. InsyaAllah, nggak ada yang sulit bagi-Nya.

            Juga tidak kalah pentingnya, menyiapkan anak untuk mandiri dan pandai mengelola perasaan saat salah satu orang tuanya tidak ada. Jujur saya belajar banyak dari ketenangan Akna saat ayahnya nggak ada. Dia ditanya soal kerinduannya pada ayah. Dengan bijak dia menjawab, “Sebenarnya mas Akna sedih, ingat ayah. Tapi mas Akna nangisnya diam-diam kalau ibu nggak tahu. Kasihan ibu, soalnya”.

            Subhanallah… betapa terharunya saya. Saya pikir dia yang bakal rese ditinggal ayahnya. Ternyata…???

 

cinere, febr 08

single mom? cape deee 🙂

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s