(Old Post) Wisata Sejarah KRB

Wisata Sejarah KRB:

Makam dan Aura Mistis itu

 

            Memanfaatkan liburan sekolah si sulung, Akna, dan libur habis ujian sang ayah, akhirnya jadi juga kami jalan-jalan ke Bogor. Tadinya sih niatnya mau ke Taman Safari, sekalian mengenalkan aneka macam fauna ke si baby, Ahya. Apa boleh buat, jalan menuju ke sana macetnya nggak kira-kira. Sempat makan di Cimory (assorted mixed grilled sausages dan chicken sukiyaki nya recommended banget deh) plus sedikit belanja sosis Kanzler dan yoghurt Cimory yang terkenal itu, akhirnya kita memutuskan turun.

            Bogor jadi tujuan selanjutnya. Si sulung Akna pingin lagi ke museum Zoologi. Oh ya, keluarga kami memang pecinta museum. Kami bahkan menjadwalkan khusus wisata sejarah ke museum dan situs-situs bersejarah. Sekalian saya, emaknya, cari data buat menulis. Wisata sejarah selalu jadi event yang ditunggu oleh kami sekeluarga, disamping wisata religi (dari masjid ke masjid), wisata kuliner, dan wisata mall to mall (kalau yang ini adalah hobi saya, sekalian mencari coffee spot).

            Museum Zoologi, tujuan wisata sejarah kami kali ini, terletak di kebun Raya Bogor (KRB). KRB sendiri didirikan oleh seorang belanda, ahli botani, bernama Reinwardt pada tanggal 18 Mei 1817. Sudah lama banget ya? Nggak heran di situ banyak sekali tumbuhan dan pohon-pohon yang sudah ratusan tahun umurnya.

            Memasuki KRB, kami langsung menuju Museum Zoologi, sementara hujan lebat sekali. Jadi deh, suami saya bolak-balik menjemput saya dan kedua anak kami dengan paying bergantian, dari parkir ke museum.

            Kayaknya saya nggak mau cerita tentang museum Zoologi ini sekarang deh. Soalnya ternyata tujuan berikutnya, yang tadinya nggak direncanakan, malah lebih asyik.

            Jadi ceritanya, setelah keliling museum Zoologi, kita bingung mau kemana lagi di KRB. Hujan pula. Tiba-tiba saya teringat sebuah informasi yang saya dapat dari novel keren “Adriana” karyanya Fajar Nugros dan Artasya Sudirman (Lingkar Pena, 2010).Di situ dikatakan bahwa di pojok KRB ada makam Belanda, dimana terdapat makamnya Adriana van den Bosch, puteri salah satu Gubernur Jendral Hindia Belanda, van Den Bosch, yang terkenal karena cultuur stelsel-nya. Sementara si Adriana ini punya sikap yang berbeda dari ayahnya. Dia lebih memihak kepada penderitaan rakyat di negeri jajahan ini.

            Kemudian juga, saya ingat, seorang teman saya, di sebuah klub buku, jeung Widya, pernah sampai ke makam itu. Katanya makamnya sepiiii sekali. Ya iyalah, kalau rame mah namanya mall kali :P)

            Penasaran dengan makam itu, kami mutar-mutar keliling KRB. Ketemunya kok ya jembatan gantung lagi, jembatan gantung lagi. Si kecil masih senang melambaikan tangan dari kaca jendela kepada semua pohonan dan kucing yang dia temui sepanjang perjalanan, sementara si sulung jadi sama penasarannya dengan saya.             Ternyata di dekat jembatan gantung yang ‘terkenal’ itu, ada sebuah makam. Ada kuncennya, kakek-kakek. Karena penasaran, saya datangi Kek Kuncen itu. Siapa tahu ini makamnya Adriana. Kata suami saya sih kecil kemungkinan, soalnya melihat dari type makamnya, kayaknya bukan makam Belanda.

            Suami saya benar. Itu memang bukan makam Belanda. Tapi makam Eyang ratu Galuh, istri Prabu Siliwangi, yang telah demikian melegenda di kalangan masyarakat Sunda. Sedikit info tentang Prabu Siliwangi, beliau adalah salah satu raja yang sangat berpengaruh pada masa kejayaan kerajaan Galuh Pakuan.

            Bahkan konon, para spiritualis meyakini, kalau Kebun Raya Bogor yang luasnya sekitar 87 hektar ini merupakan peninggalan kerajaan tersebut, sebelum dibangun oleh Reinwardt. Menurut mereka, dulunya KRB merupakan taman Sipahutanan, alias Taman Sari kerajaan Galuh Pakuan. Setelah kerajaan ini runtuh,mereka seolah ingin meninggalkan bukti bahwa di tanah ini dulu pernah berdiri sebuah kerajaan besar dan megah.

            Oleh karena itu, pada bulan-bulan tertentu banyak para sepuh yang datang ke KRB khusus untuk mengambil Air Sipahutanan, air kehidupan yang diyakini hanya keluar sekali dalam setahun.

            Saya sendiri sempat melongok ke makam berwarna hijau putih itu. Makam yang lumayan bersih itu tengah diziarahi oleh seseorang yang sedang berdoa di depannya. Sekelilingnya tercium wangi dupa yang menusuk hidung. Saya yang lagi flu saja bisa dengan baik, membaui wangi itu. Mendadak saya merinding.

            Nggak takut sama penampakan atau sejenis itu, tapi hanya merasakan aura mistis yang kental di situ. Saya sendiri sudah cukup biasa meraskaan aura yang demikian di hamper setiap wisata sejarah yang saya lakukan.

            Buat sekedar panduan, jika berminat mengunjungi makam tersebut,ancer-ancernya adalah jembatan gantung. Nah seberangnya jembatan gantung, ada pagar besi hijau, ada semacam bangunan berwarna hijau putih. Nah itu dia. Tanya saja sama Kek Kuncen yang setia duduk di situ.

            Saya kembali ke mobil dimana Akna heboh betul tanya-tanya tentang makam itu. Tadinya saya sudah merasa cukup dengan makam Eyang Ratu Galuh, tapi tumben, suami yang masih penasaran. Katanya kan kita sudah kepalang masuk sini. Oh OK deh.

            Setelah shalat ashar di salah satu mushala KRB, kami melanjutkan muter-muter mencari makam Adriana. Kembali pusing karena baliknya ke situ lagi, situ lagi,saya memutuskan segera keluar KRB, nyari makan dan kalau bisa sih ke Istana Bogor. Tapi suami saya masih pingin sekali lagi mencari. Akna juga mendukung ayahnya.

            Dua kali berhenti di papan Informasi Umum, akhirnya kami menemukan juga yang dicari. Saya sempat ciut melihat jalan setapak kecil diantara rerumpunan bambu. Syereeem. Mana gelap dan becek pula. Akna yang tadinya sudah mau ikut bareng saya berjalan menyusuri jalan setapak itu, mundur, dan kembali ke mobil. Jadilah saya sendiri. Hiyyy…

            Dengan berbekal doa, saya terus berjalan. Tapi mendadak saya merasa saya harus kembali ke mobil. Jalan setapak itu tergenang air setinggi setengah boots saya. Ketika saya injak, airnya benar-benar pekat. Hiyaaa, bisa-bisa masuk ke boots saya ini air kotor. Ya sudah deh, goodbye Adriana. Saya baliklagi ke mobil.

            Suami dan Akna mengira saya takut, jadi balik lagi. Hehehe, sejujurnya sih iya. Takut ular tepatnya. Bambunya lumayan rimbun gitu soalnya.

            Masih belum kekurangan akal, kami naik mobil lagi, perlahan-lahan. Tak jauh dari rerimbunan bamboo tadi, kami menemukan sebuah taman yang cukup luas, tepat di seberang istana Bogor yang ada dananunya.

            Kami semua berfoto-foto di taman itu, namanya Taman Eijsmann. Hehehe, lumayan lah. Nggak jadi ke makam Adriana, diganti foto-foto. Tapi suami melihat ada rerimbunan bamboo yang agaknya menuju makam Belanda itu. Saya tertantang untuk masuk ke sana, sambil mengambil foto. Jalan setapaknya tidak semengerikan jalan yang tadi.

            Sendirian saya memasuki jalan setapak itu. Tidak sebecek yang tadi. Namun aura mistis kembali membuat saya merinding. Suara burung senja bersahutan menambah kesan itu. Aduh, lanjut nggak ya? Tapi betulan penasaran nih.

            Perlahan saya mendekati kawasan makam itu. Dan ceklik, ceklik. Voila, akhirnya saya berhasil mengambil gambar suasana makam itu, meskipun dari tempat yang agak jauh. Mau masuk, hmmm…. Gimana ya?

            Kawasan makam itu tampak begitu dingin dan sepi. Dibentengi oleh pagar tembok warna semen membuatnya semakin terpencil. Apalagi sekitarnya dikelilingi rerumpunan bamboo. Kebanyakan makam di situ dibangun dalam bentuk prasasti kecil atau tugu kecil.

            Konon para turis Belanda terheran-heran ketika melihat makam bersejarah ini tak terawat. Menurut petugas KRB, dulu memang ada dana bantuan dari kedubes Belanda, untuk perawatan makam ini. Namun sekarang sudah dihentikan. Betapa menyedihkan.

            Sesuatu dari dalam hati saya mengingatkan. Sebentar lagi maghrib, jam setengah enam sore saat itu. Saat masih dalam suasana pergantian malaikat jaga, kalau menurut apa yang pernah saya baca. Saat-saat menjelang sunset itulah biasanya syetan selalu berusaha ‘menyesatkan’ manusia dengan berbagai cara.

            Barangkali cukup untuk saat ini. Saya berbalik meninggalkan kawasan makam itu. Mungkin lain kali, saya bisa masuk ke dalamnya, membaca satu persatu nisan yang ada di sana. Lalu menjadikannya inspirasi untuk kisah-kisah yang saya tulis. Matahari makin tenggelam, menyiratkan warna jingga terang di horizon. Kami melanjutkan perjalanan, setelah sempat berfoto lagi di depan danau istana Bogor. Keluar dari kompleks KRB, mobil kami melaju menuju tol Jagorawi,kembali ke Jakarta eh… Depok.

            Berikut adalah sedikit info tentang para penghuni kawasan makam Belanda di KRB, yang saya dapat dari blog: (sumber: http://abril.susiloadhy.net/2007/03/23/termenung-di-kuburan-gubernur-jenderal-van-de-eerens/ ). Terima kasih buat Abril Susiloadhy atas infonya di blog yang sangat menambah ilmu saya.

 

Rustplaats
van
DJ de Eerens
Luitn-Generaal
Gouverneur Generaal
van
Nederlandsch-Indie”
RIP

(Tempat peristirahatan DJ de Eerens. Letnan Jenderal. Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Beristirahat dalam Damai)

Hanya begitu catatan yang ada di nisan makam Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens yang ada di Kebun Raya Bogor (KRB). Meski terpahat di batu pualam yang abadi, epitaf bahkan tak menyebut tempat dan tanggal lahir serta di mana dan kapan ia wafat. Amat sederhana.

Akan tetapi, sejarah tetap mencatat, De Eerens adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, ”negeri yang kini bernama Indonesia”, antara 1836-1840. Ia lahir di Alkmaar, Belanda, 17 Maret 1781, dan wafat di Buitenzorg, kini Bogor, pada 30 Mei 1840. De Eerens wafat mendadak saat masih menjabat gubernur jenderal.

De Eerens yang perwira militer tiba di Batavia pada 22 Februari 1835. Setahun kemudian, 29 Februari 1836, ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-44, menggantikan Jean Chretien Baud.

Tugas utama De Eerens adalah melanjutkan kebijakan cultuur stelsel alias tanam paksa. Kebijakan ini adalah buah gagasan Johannes van den Bosch, gubernur jenderal antara 1830-1833.

Dalam masa jabatan De Eerens, dampak buruk cultuur stelsel, yang mewajibkan petani padi di Jawa menyisihkan sebagian lahan untuk memproduksi tanaman komoditas ekspor, mulai nyata. Di daerah-daerah perkebunan tebu, rakyat menderita akibat perebutan sumber air antara petani padi dan pabrik gula. Paceklik merajalela. Harga beras mel
Makam De Eerens adalah salah satu dari 38 kuburan yang ada di pemakaman Belanda di dalam lingkungan KRB. Pemakaman itu, yang sudah ada sebelum taman botani itu didirikan pada 1817, lokasinya tersembunyi di tengah rumpun-rumpun bambu yang rimbun.

Kuburan tertua adalah milik Cornelis Potmans, yang meninggal dan dikubur pada 2 Mei 1784. Dalam buku Graveyards in the Bogor Botanical Gardens yang diterbitkan LIPI (1999), disebutkan Potmans adalah karyawan administrasi sebuah toko obat. Di batu kuburnya tertulis umur persis laki-laki Belanda itu, yakni 42 tahun, 10 bulan, dan 23 hari.

Sebaliknya, makam Andre Joseph Guillaume Henri Kostermans adalah yang terbaru. Ahli ilmu botani ternama itu wafat di Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta pada 10 Juli 1994. Saat masih hidup, laki-laki Belanda kelahiran Purworejo, Jawa tengah, 1 Juli 1901, itu sudah bilang, jika mati, ia ingin dikubur di KRB, di antara pepohonan yang ia cintai.

Kostermans menjadi warga negara Indonesia pada 1958 dan mengganti nama jadi Achmad Jahya Go Hartono.

De Eerens adalah satu-satunya gubernur jenderal Belanda yang dikubur di kompleks pemakaman seluas sekitar 700 meter persegi itu. Akan tetapi, di sana banyak kuburan anak-istri gubernur jenderal lain yang berkuasa pada abad ke-19 dan sempat menghuni Istana Bogor.

Di antara makam-makam yang umumnya berbentuk monumen batu segi empat pendek, paling tidak ada dua kuburan istri gubernur jenderal. Mereka adalah Jeannette Antoinette Pietermaat, istri Gubernur Jenderal Pieter Mijer (1866-1872), dan Elizabeth Charlotte Vincent, istri kedua Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen (1845-1851).

Menurut ahli silsilah Belanda, PC Boys van Treslong, dalam bukunya Genealogische en herhaldische gedenkwaardigheden bettrefende Europeanen op Java (Keturunan Eropa di Jawa yang Layak Diingat, 1934), Elizabeth Charlotte Vincent adalah perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, 6 Juni 1827. Ia meninggal di Buitenzorg, 14 Agustus 1851, setelah melahirkan bayinya, yang juga meninggal saat dilahirkan pada 21 Juni 1851.

Putri gubernur jenderal lain yang wafat dan dikubur di tempat sama adalah Gertrude Jacqueline Gerarde van Rees, putri Gubernur Jenderal Otto van Rees (1884-1888). Gertrude, yang wafat pada 28 September 1886, adalah anak Van Rees dari istri keduanya, Johanna Sara Wilhelmina van Braam Morris.

Di KRB pun terbaring jasad dua anak Van den Bosch, gubernur jenderal yang terkenal itu. Mereka adalah Adriana, putrinya, yang wafat dalam usia 23 tahun pada 18 September 1831, dan Johannes Hendrik Lodewijk Otto, putranya, yang meninggal dalam usia dua tahun, 20 Juni 1836. Johannes dilahirkan dan meninggal di vila keluarga Van den Bosch di Pondok Gede di utara Bogor.

Sebuah kuburan penting lain adalah milik Ary Prins, ahli hukum Belanda yang meninggal di Jakarta pada 28 Januari 1876. Prins yang juga ketua Raad van Nederlansch-Indie (Parlemen Hindia Belanda) pernah dua kali jadi penjabat gubernur jenderal, yakni antara 2 September-19 Oktober 1861 dan 25 Oktober-28 Desember 1866.

Di pemakaman Belanda di KRB, kuburan Prins adalah yang paling besar. Terbuat dari batu cadas kelabu, makam itu berbentuk monumen dengan dasar dasar berukuran 2 meter x 2 meter dan tinggi sekitar empat meter.

 

            Jadi, bagi teman-teman yang hobi wisata sejarah, kedua kawasan makam ini, menurut saya, penting banget dikunjungi. Jangan lupa berbekal kamera dan sedikit info tentang siapa saja yang menghuni kedua kawasan makam ini, biar tambah ‘meresapi’. J

(Cinere 060710).

 

Referensi:

1.http://abril.susiloadhy.net/2007/03/23/termenung-di-kuburan-gubernur-jenderal-van-de-eerens/

2. http://www.iderbuana.co.cc/2009/10/kebun-raya-bogor.html

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to (Old Post) Wisata Sejarah KRB

  1. desigendis says:

    wuiii…..berani ya mba di KRB sampe menjelang magrib?,..Aq pernah sampai kesekitaran taman trus melintas diantara rumpun bambu…g brani nengok2,,,apa mungkin disekitar situ adl area makam ya?,,,jujur aqu bisa ngrasain t4 yg ‘berat’ bgtu..tp g berani macem2,,,,

  2. zesa annisa says:

    Ih bca ini keren bgt sumpah 🙂 jadi makin cinta sama sejarah deh,makasih yah kak udah bagi infonya 🙂 jangan bosen2 share terus pengalamannya y .

  3. Pricilia says:

    Saya pernah kesana koq.
    Kemakamnya bersama mama saya.
    Mama saya udah ketakutan tapi saya paksain akhirnya kita masuk brg lagi..
    Mama saya duduk di makam seorang belanda tanpa mengucapkan permisi dulu,eh sakit deh.
    Sakitnya karena diikutin nenek nenek bule pake kebaya.
    Padahal saya lebih ngga sopan,menyingkirkan daun di makam pakai kaki.

  4. rini ismayanti says:

    Mba..kok link yg dilampirkan sdh ga bs dibuka ya? 😀 wah sayang sekali saya baru baca blog ini dan baru tau dstu ada makam noni belanda d saat saya sudah tidak tinggal di bogor lagi 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s